Saya adalah seorang kakak buat adik saya yang saat ini sedang duduk di kelas XI. Entah kata apa yang bisa saya ucapkan ketika melihat wajahnya.
Terkadang terlintas di pikiran saya kata-kata ‘kenapa saya bisa punya adik yang nakalnya seperti dia’, kata-kata itu terlintas ketika kami sedang bertengkar.
Terkadang terlintas di pikiran saya kata-kata ‘Saya beruntung memiliki adik seperti dia’, kata-kata itu terlintas ketika dia rajin dan bersedia disuruh sholat dan belajar.
Terkadang terlintas di pikiran saya kata-kata ‘Adik saya ternyata ganteng juga ya’, kata-kata itu terlintas di pikiran saya ketika dia bercerita kepada saya bahwa ada seorang perempuan yang suka kepadanya.
Saya juga pernah menitihkan air mata ketika ibu bercerita kepada saya tentang tingkah dan ulahnya yang nakal. Tetapi tak jarang saya dibuatnya tersenyum ketika dia banyak melakukan hal-hal yang sempurna walaupun sederhana yaitu sewaktu saya mudik ke rumah sekitar bulan Agustus 2011 sehabis sholat magrib, dia masuk ke kamar saya dan berkata ‘Kak, aku mau baca alquran lah!’.
Saya ingin dia tahu bahwa rasa sayang saya kepadanya melebihi rasa sayang saya kepada diri saya sendiri. Saya ingin dia tahu betapa sedihnya saya ketika saya mendengar kabar dia kecelakaan jatuh dari motor. Saya ingin dia tahu betapa sedihnya saya ketika saya mendengar kabar dari orang tua saya kalau adik saya malas belajar dan hanya bermain bersama teman-temannya.
Yang paling penting adalah saya ingin dia tahu betapa bahagianya saya jika nanti kelak dia bisa kuliah di Universitas yang jauh lebih baik daripada tempat saya kuliah saat ini. Betapa bahagianya saya jika dia bisa lebih pintar daripada saya sekarang. Betapa bahagianya saya ketika dia bisa lebih membahagiakan kedua orangtua saya dibanding saya sekarang. Betapa bahagianya saya ketika dia bisa lebih taat dan konsisten dalam beribadah dibanding saya sekarang. Dan betapa bahagianya saya ketika dia bisa lebih bermanfaat buat orang-orang disekitarnya dibanding saya sekarang.
Saya ingin dia tahu betapa saya sangat menghawatirkan kesehatannya dan menghawatirkan teman-temannya yang sewaktu-waktu bisa mengajaknya berbuat kejahatan atau apapun yang merugikan dirinya. Saya ingin dia tahu bahwa selama ini saya sering memarahinya bukan karena saya membencinya melainkan saya sangat menyayangi dan menghawatirkannya.
Setiap saat namanya selalu ada di dalam doa saya “Rizky Maulana Damanik” adikku yang paling baik yang paling ganteng yang paling soleh yang paling pintar yang paling rajin dan yang paling lucu.
Kakakmu yang selalu menyayangimu

